kebutuhan istirahat tidur
BAB IPENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Istirahat dan tidur merupakan dasar yang dibutuhkan oleh semua orang. Untuk dapat berfungsi secara normal, maka setiap orang memerlukan istirahat dan tidur yang cukup. Pada kondisi istirahat dan tidur, tubuh melakukan proses pemulihan untuk mengembalikan stamina tubuh hingga berada dalam kondisi yang optimal.
Setiap individu mempunyai kebutuhan istirahat dan tidur yang berbeda. Pola istirahat dan tidur yang baik dan teratur memberikan efek yang bagus terhadap kesehatan. Namun dalam keadaan sakit, pola tidur seseorang biasanya terganggu, sehingga perawat perlu berupaya untuk membantu pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur klien.
Istirahat dan tidur sangat penting bagi kesehatan. Orang yang sakit sering kali memerlukan istirahat dan tidur lebih banyak dibandingkan biasanya. Sering kali, orang yang lemah karena sakit menghabiskan sejumlah besar energi untuk kembali sehat atau melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari. Akibatnya, orang tersebut mengalami keletihan yang meningkat dan sering serta membutuhkan istirahat dan tidur tambahan. Istirahat memulihkan energi seseorang, yang memungkinkan orang tersebut untuk menjalankan fungsi dengan optimal. Apabila waktu istirahat seseorang berkurang, orang tersebut sering kali mudah marah, depresi, dan lelah, serta memiliki kontrol emosi yang buruk. Menyediakan lingkungan yang tenang untuk klien merupakan fungsi penting perawat.
1.2 Rumusan Masalah
- Apakah definisi dari Istirahat dan Tidur ?
- Apakah fungsi dari Istirahat dan Tidur ?
- Bagaimana mekanisme Istirahat dan Tidur ?
- Bagaimana tahap-tahap Istirahat dan Tidur?
- Bagaimana kebutuhan Istirahat dan Tidur dalam berbagai usia ?
- Apa sajakah masalah yang sering kali ditemukan dalam pemenuhan kebutuhan Istirahat dan Tidur ?
- Bagaimana Asuhan Keperawatan pada klien gangguan pemenuhan kebutuhan Istirahat dan Tidur ?
Untuk mempelajari serta memahami masalah-masalah yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan Istirahat dan Tidur serta aplikasi dalam asuhan keperawatan.
1.4 Manfaat
- Menambah wawasan mahasiswa tentang kebutuhan Istirahat dan Tidur
- Mengetahui masalah-masalah pada pasien dengan gangguan Istirahat dan Tidur
- Menambah pengetahuan mahasiswa dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada pasien
- Menumbuhkan sikap “caring” terhadap pasien
- Mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan pemenuhan kebutuhan Istirahat dan Tidur.
Baca Juga :
Cara Membuat Laporan Pendahuluan Keperawatan
Contoh Soal Kasus Keperawatan Anak
Cara Mengekerjakan Soal Kasus KPSP anak
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Istirahat dan Tidur
Kata ‘istirahat’ mempunyai arti yang sangat luas meliputi bersantai menyegarkan diri, dalam menganggur setelah melakukan aktivitas, serta melepaskan diri dari apa pun yang membosankan, menyulitkan, atau menjengkelkan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa istirahat merupakan keadaan yang tenang, rileks, tanpa tekanan emosional dan beban dari kecemasan (ansietas).
Makna istirahat dan kebutuhan tidur bervariasi pada setiap individu. Istirahat bermakna ketenangan, relaksasi tanpa stres emosional, dan bebas dari ansietas. Oleh karena itu, istirahat tidak selalu bermakna tidak beraktivitas; pada kenyataannya, beberapa orang menemukan ketenangan dari beberapa aktivitas tertentu seperti berjalan di udara segar. Saat istirahat diprogramkan untuk seorang klien, perawat dan klien harus sama-sama mengetahui apakah klien tidak boleh beraktivitas dan apakah inaktivitas tersebut melibatkan seluruh tubuh atau bagian tubuh (misal: sebuah lengan).
Seseorang dapat benar-benar istirahat bila:
- Merasa segala sesuatu dapat diatasi dan di bawah kontrolnya.
- Merasa diterima eksistensinya baik di tempat tinggal, kantor, atau di mana pun. Juga termasuk ide-idenya diterima oleh orang lain.
- Mengetahui apa yang terjadi.
- Bebas dari gangguan dan ketidaknyamanan.
- Memiliki kepuasan terhadap aktivitas yang dilakukannya.
- Mengetahui adanya bantuan sewaktu-waktu bila memerlukannya.
Tidur merupakan kebutuhan dasar manusia; tidur merupakan sebuah proses biologis yang umum pada semua orang. Ditinjau dari sejarahnya, tidur dianggap sebagai keadaan tidak sadar. Tidur dicirikan dengan aktivitas fisik minimal, tingkat kesadaran bervariasi, perubahan pada proses fisiologis tubuh, dan penurunan respons terhadap stimulus eksternal. Beberapa stimulus lingkungan, seperti sebuah alarm detektor asap, biasanya akan membangunkan orang yang sedang tidur, sementara suara bising lain tidak akan membangunkannya. Tampaknya bahwa individu berespons terhadap stimulus bermakna saat tidur dan mengabaikan stimulus yang tidak bermakna secara selektif.
Seseorangan dapat dikategorikan sedang tidur apabila terdapat tanda-tanda sebagai berikut:
- Aktivitas fisik minimal.
- Tingkat kesadaran yang bervariasi.
- Terjadi perubahan-perubaahan proses fisiologis tubuh, dan
- Penurunan respons terhadap rangsanan dari luar.
- Penurunan tekanan darah, denyut nadi.
- Dilatasi pembulih darah perifer.
- Kadang-kadang terjadi peningkatan aktivitas traktur gastrointestinal.
- Relaksasi otot-otot rangka.
- Basal metabolisme rate (BMR) menurun 10-30%.
Tidur tidak dapat diartikan sebagai manifestasi deaktifasi sistem saraf pusat. Sebab pada orang yang tidur, sistem saraf pusatnya tetap aktif dalam sinkronisasi terhadap neuron-neuron substansia retikularis dari batang otak. Ini dapat diketahui melalui pemeriksaan electroenchepalogram (EEG). Alat tersebut dapat memperlihatkan fluktuasi energi (gelombang otak) pada kertas grafik.
Fisiologi Tidur: Siklus alami tidur diperkirakan dikendalikan oleh pusat yang terletak di bagian bawah otak. Pusat ini secara aktif menghambat keadaan terjaga, sehhingga menyebabkan tidur.
2.2 Fungsi Tidur
- Tidur memberi pengaruh fisiologis pada sistem saraf dan struktur tubuh lain.
- Tidur memulihkan tingkat aktivitas normal dan keseimbangan normal di antara bagian sistem saraf.
- Tidur juga penting untuk sintesis protein, yang memungkinkan terjadinya proses perbaikan.
2.3 Pengaturan Tidur
Tidur melibatkan suatu urutan keadaan fisiologis yang dipertahankan oleh integrasi tinggi aktivitas sistem saraf pusat yang berhubungan dengan perubahan dalam sistem saraf peripheral, endokrin, kardiovaskular pernapasan dan musukular. Tiap rangkaian diidentifikasi dengan respon fisik tertentu dan pola aktivitas otak. Peralatan seperti elektroensefalogram (EEG), yang mengukur aktivitas listrik dalam korteks serebral, elektromiogram (EMG) yang mengukur tonus otot dan elektrookulogram (EOG) yang mengukur gerakan mata, memberikan informasi struktur aspek fisiologis tidur
Control dan pengaturan tidur tergantung pada hubungan antara dua mekanisme serebral yang mengaktivasi secara intermiten dan menekan pusat otak tertinggi untuk mengkontrol tidur dan terjaga. Sebuah mekanisme menyebabkan terjaga dan yang lain menyebabkan tertidur.
Sistem aktivasi retikular (SAR) berlokasi pada batang otak teratas. SAR dipercayai terdiri dari sel khusus yang mempertahankan kewaspadaan dan terjaga. SAR menerima stimulus sensori visual, auditori, nyeri, dan taktil. Aktivitas korteks serebral (mis. proses emosi atau pikiran) juga menstimulasi SAR. Saat terbangun merupakan hasil neuron dalam SAR yang mengeluarkan katekolamin seperti norepinefrin (Sleep Research Society, 1993).
Tidur dapat dihasilkan dari pengeluaran serotonin dari sel tertentu dalam sistem tidur raphe pada pons dan otak depan bagian tengah. Daerah otak juga disebut daerah sinkronisasi bulbar (bulbar synchroningzing region, BSR). Apakah seseorang tetap terjaga atau tertidur tergantung pada keseimbangan impuls yang diterima dari pusat yang lebih tinggi (mis. pikiran), reseptor sensori perifer (mis. stimulus bunyi atau cahaya) dan sistem limbic (emosi)
Ketika orang mencoba tertidur, mereka akan menutup mata dan berada dalam posisi relaks. Stimulus ke SAR menurun. Jika ruangan tetap dan aktivasi SAR selanjutan menururn. Pada beberapa bagian, BSR mengambil alih, yang menyebabkan tidur.
2.4 Jenis-Jenis Tidur
Pada hakekatnya tidur dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori yaitu tidur dengan gerakan bola mata cepat (Rapid Eye Movement – REM), dan tidur dengan gerakan bola mata lambat (Non-Rapid Eye Movement – NREM).
2.4.1 Tidur REM
Tidur REM merupakan tidur dalam kondisi aktif atau tidur paradoksial. Hal tersebut berarti tidur REM ini sifatnya nyenyak sekali, namun fisiknya yaitu gerakan kedua bola matanya bersifat sangat aktif. Tidur REM ditandai dengan mimpi, otot-otot kendor, tekanan darah bertambah, gerakan mata cepat (mata cenderung bergerak bolak-balik), sekresi lambung meningkat, ereksi penis pada laki-laki, gerakan otot tidak teratur, kecepatan jantung, dan pernafasan tidak teratur sering lebih cepat, serta suhu dan metabolisme meningkat.
Apabila seseorang mengalami kehilangan tidur REM, maka akan menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut:
- Cenderung hiperaktif.
- Kurang dapat mengendalikan diri dan emosi (emosinya labil).
- Nafsu makan bertambah.
- Bingung dan curiga.
2.4.2 Tidur NREM
Tidur NREM merupakan tidur yang nyaman dan dalam. Pada tidur NREM gelombang otak lebih lambat dibandingkan pada orang yang sadar atau tidak tidur. Tanda-tanda tidur NREM antara lain: mimpi berkurang, keadaan istirahat, tekanan darah turun, kecepatan pernafasan turun, metabolisme turun, dan gerakan bola mata lambat.
2.5 Siklus Tidur
Secara normal, pada orang dewasa, pola tidur rutin dimulai dengan period sebelum tidur, selama seorang terjaga hanya pada rasa kantuk yang bertahap berkembang secara teratur. Periode ini secara normal berakhir 10 hingga 30 menit, tetapi untuk seseorang yang memiliki kesulitan untuk tertidur, akan berlangsung satu jam atau lebih.
Ketika seseorang tertidur, biasanya melewati 4 sampai 6 siklus tidur penuh, tiap siklus terdiri 4 tahap dari tidur NREM dan 1 periode dari tidur REM. Pola siklus biasanya berkembang dari tahap 1 menuju ke tahap 4 NREM, diikuti kebalikan tahap 4 ke-3, lalu ke-2, diakhri dengan periode dari tidur REM. Seseorang biasanya mencapai tidur REM sekitar 90 menit ke siklus tidur.
(Skema siklus tidur)
Dengan tiap-tiap siklus yang berhasil, tahap 3 dan 4 memendek, dan memperpanjang periode REM. Tidur REM dapat berakhir sampai 60 menit selama akhir siklus tidur. Tidak semua orang mengalami kemajuan yang konsisten menuju ke tahap tidur yang biasa. Sebagai contoh, orang yang tidur dapat berfluktuasi untuk interal pendek antara NREM tingkat 2, 3, dan 4 sebelum masuk tahap REM. Jumlah waktu yang digunakan tiap tahap bervariasi. Perubahan tahap ke tahap cenderung menemani pergerakan tubuh dan perpindahan untuk tidur yang dangkal cenderung terjadi tiba-tiba, dengan perpindahan untuk tidur nyenyak cenderung bertahap (Closs, 1988). Jumlah siklus tidur tergantung pada jumlah total waktu yang klien gunakan untuk tidur.
| KONDISI UNTUK ISTIRAHAT YANG CUKUP |
KENYAMANAN FISIK
|
BEBAS DARI KECEMASAN
|
TIDUR YANG CUKUP
|
2.6 Tahap-Tahap Tidur
| TAHAPAN SIKLUS TIDUR |
TAHAP 1: NREM
|
TAHAP 2: NREM
|
TAHAP 3: NREM
|
TAHAP 4: NREM
|
TIDUR REM
|
Perbandingan pola tidur normal pada orang dewasa muda dan dewasa lanjut. Orang dewasa muda memiliki waktu terjaga yang lebih sedikit dan bergerak secara progresif selama tahap-tahap tidur. Lansia lebih sering terjaga dan lebih banyak waktu yang terpakai dalam tahap tidur ringan.
2.7 Kebutuhan Tidur
Kebutuhan tidur pada manusia bergantung pada tingkat perkembangan. Tabel berikut ini merangkum kebutuhan tidur manusia berdasarkan usia.
| Umur | Tingkat perkembangan | Jumlah kebutuhan tidur |
| 0-1 bulan | Bayi baru lahir | 14-18 jam/hari |
| 1-18 bulan | Masa bayi | 12-14 jam/hari |
| 18 bulan-3 tahun | Masa anak | 11-12 jam/hari |
| 3-6 tahun | Masa prasekolah | 11 jam/hari |
| 6-12 tahun | Masa sekolah | 10 jam/hari |
| 12-18 tahun | Masa remaja | 8,5 jam/hari |
| 18-40 tahun | Masa dewasa | 7-8 jam/hari |
| 40-60 tahun | Masa muda paruh baya | 7 jam/hari |
| 60 tahun keatas | Masa dewasa tua | 6 jam/hari |
2.8 Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Pemenuhan Kebutuhan Istirahat Tidur
Kualitas maupun kuantitas tidur dipengharuhi oleh sejumlah faktor. Kualitas tidur merujuk pada kemampuan individu untuk tetap tertidur dan mendapatkan sejumlah tidur REM dan NREM yang pas. Kuantitas tidur adalah total waktu tidur individu.
- 1. Sakit
Kondisi pernapasan dapat menganggu tidur individu. Napas pendek sering kali membuat sulit tidur dan orang yang mengalami sumbatan hidung atau drainasesinus dapat mengalami masalah pernapasan dan kemudian dapat membuatnya sulit tidur.
Orang yang menderita tukak lambung atau duodenum akan mengalami gangguan tidur karena rasa nyeri, seringkali akibat dari peningkatan sekresi lambung yang terjadi selama tidur REM.
Gangguan endokrin tertentu juga dapat memengaruhi tidur. Hipertiroidisme memperpanjang waktu pratidur, membuat seorang klien sulit tertidur. Sebaliknya hipotiroidisme menurunkan tidur tahap IV. Wanita yang memiliki kadar estrogen rendah seringkali melaporkan rasa letih yang berlebihan. Selain itu, mereka dapat mengalami gangguan tidur, sebagian ketidaknyamanan akibat rasa panas atau keringat malam yang dapat terjadi akibat penurunan kadar estrogen.
Peningkatan suhu tubuh dapat menyebabkan pengurangan tahap III dan IV tidur REM. Kebutuhan untuk berkemih di malam hari juga mengganggu tidur dan orang yang terbangun di malam hari untuk berkemih kadang kala mengalami kesulitan untuk dapat kembali tidur.
- 2. Lingkungan
Ketidaknyamanan akibat suhu lingkungan dan kurang ventilasi dapat memengaruhi tidur. Kadar cahaya dapat menjadi faktor lain yang berpengaruh. Seseorang yang terbiasa tidur dalam gelap mungkin sulit tidur pada keadaan terang.
- 3. Letih
- 4. Gaya Hidup
- 5. Stress Emosional
- 6. Stimulan dan Alkohol
- 7. Diet
- 8. Merokok
- 9. Motivasi
10. Obat-obatan
Beberapa obat memengaruhi kualitas tidur. Hipnotik dapat memengaruhi tahap III dan IV tidur NREM dan menekan tidur REM. Penyekat-beta diketahui menyebabkan insomnia dan mimpi buruk. Narkotik, seperti meperidin hidroklorida (Demerol) dan morfin, diketahui menekan tidur REM dan menyebabkan sering terbangun dan rasa ngantuk. Obat penenang memengaruhi tidur REM. Amfetamin dan antidepresan menurunkan tidur REM secara tidak normal. Seorang klien yang putus obat dari setiap obat-obatan ini mendapatkan lebih banyak tidur REM dibandingkan biasanya dan akibatnya dapat mengalami mimpi buruk yang mengganggu.
2.9 Masalah Yang Seringkali Ditemukan dengan Pemenuhan Kebutuhan Istirahat-Tidur
Gangguan tidur adalah kondisi yang jika tidak di obati, secara umum akan menyebabkan gangguan tidur malam yang mengakibatkan munculnya salah satu dari ketiga maslah berikut: insomnia, adalah gerakan atau sensasi abnormal dikala tidur atau ketika terjaga ditengah malam, atau rasa mengantuk yang berlebihan disiang hari (Naylor dan Aldrich, 1994). Banyak orang dewasa di Amerika Serikat memiliki hutang tidur yang signifikan karena ketidak adekuatan dalam hal kuantitas maupun kualitas tidur malamnya dan mengalami hipersomnolen di siang hari selam melaksanakan aktivitas sehari-hari (National Commission on Sleep Disorders Research, 1993).
Gangguan tidur telah diklasifikasikan menjadi empat kategori utama (Thhorpy, 1994). Disomnia adalah gangguan primer yang berasal dari sistem tubuh yang berbeda dan dibagi lagi menjadi tiga kelompok besar. Gangguan tidur intrinsic meliputi gangguan untuk memulai dan mempertahankan tidur, yaitu berbagai bentuk insomnia dan gangguan rasa kantuk yang berlebihan seperti narkolepsi dan apnea tidur obstruktif. Gangguan tidur ekstrinsik terjadi akibat beberapa factor eksternal, yang jika dihilangkan menyebabkan hilangnya gangguan tidur. Gangguan irama sirkadian sewaktu tidur terjadi karena ketidaksejajaran antara waktu tidur dan apa yang diinginkan oleh individu atau norma sosial. Parasomnia adalah perilaku tidak diinginkan yang erjadi pada saat tidur, gangguan terjaga, terjaga sebagian, atau selama transisi dalam siklus tidur atau dari tidur ke terbangun. Banyak gangguan tidur medis dan psikiatrik yang berhubungan dengan gangguan tidur dan bangun. Gangguan tidur tersebut dibagi menjadi gangguan tidur yang berhubungan dengan psikiatrik, neurologik, atau gangguan medis lainnya. Gangguan tidur yang masih bersifat usulan adalah gangguan baru yang adekuat mengenai keberadaan gangguan tersebut.
Riwayat kesehatan, social, keluarga, dan tidur yang lengkap dan cermat harus diperoleh untuk mendapatkan informasi rinci tentang keluhan (Naylor dan Aldirch, 1994). Kajian laboratorium tentang tidur sering kali digunakan untuk mendiagnosa gangguan tidur, termasuk menggunakan polisomnogram (PSG) dimalam hari dan Multiple Sleep Latency Test(MSLT) (Carskadon, 1994). PSG melibatkan penggunaan EEG, EMG, dan EOG untuk memantau tahapan tidur dan bangun selama tidur malam. MSLT memberi informasi objektif tentang tidur dan aspek-aspek terpilih dari struktur tidur dengan mengukur seberapa cepat individu tertidur selama empat kesempatan tidur siang sepanjang hari. Episode REM awitan tidur juga dicatat karena abnormalitas ini berhubungan dengan beberapa gangguan tidur.
- 1. Insomnia
Seseorang dapat mengalami insomnia transien akibat stress situasional seperti masalah keluarga, kerja atau sekolah, jet lag, penyakit, atau kehilangan orang yang dicintai. Insomnia dapat terjadi berulang tetapi diantara episode tersebut klien dapat tidur dengan baik. Namun, kasus insomnia temporer akibat situasi stres dapat menyebabkan kesulitan kronik untuk mendapatkan tidur yang cukup, mungkin disebabkan oleh kekhawatiran dan kecemasan yang terjadi untuk mendapatkan tidur yang adekuat tersebut.
Insomnia sering berkaitan dengan kebiasaan tidur yang buruk. Apabila kondisi berlanjut,ketakutan tidak dapat tidur dapat cukup menyebabkan keterjagaan. Disiang hari, seseorang dengan insomnia kronik dapat merasa mengantuk, letih depresi dan cemas.
Karena terdapat banyak penyebab insomnia, penatalaksanaannya melibatkan beberapa pendekatan (walsh, Hartman dan kowall,1994). Sangat penting untuk menangani dengan tepat masalah-masalah emosional atau medis yang mungkin menyebabkan maslah tidur ini. Terapi dapat juga bersifat simptomatik, termasuk memeperbaiki tindakan higine tidur, umpan balik biologis, teknik kognitif dan teknik relaksasi. Apabila insomnia merupakan akibat sekunder dari perilaku sehat yang tidak tepat maka terapi diarahkan pada perubahan perilaku tersebut. Misalnya, pada insomnia bergantung obat, klien tidak dapat tidur karena penggunaan obat hipnotik yang berlebihan. Klien ini biasanya akan sangat terbantu dengan menghentikan pemberian hipnotik tersebut secara bertahap.
- 2. Somnambulisme
- 3. Apnea Tidur
Bentuk yang paling banyak terjadi, apnea tidur obstruktif (obstructive sleep apnea, OSA), terjadi pada saat otot atau struktur rongga mulut atau tenggorok rileks pada saat tidur. Jalan napas atas menjadi tersumbat sebagian atau seluruhnya, dan aliran udara pada hidung berkurang (Hipopnea) atau berhenti (apnea) selama 30 detik (Guilleminault, 1994). Individu masih berusaha untuk bernapas karena gerakan dada dan abdomen terus terjadi, yang sering kali menyebabkan bunyi dengkuran atau dengusan yang keras. Pada saat napas hilang sebagian atau seluruhnya, setiap gerakan diafragma yang berhasil dilakukan menjadi lebih kuat sampai obstruktif tersebut berkurang. Abnormalitas structural seperti deviasi septum, polip hidung, atau pembesaran tonsil dapat menyebabkan seseorang terbangun dari tidur dalam ke siklus tidur tahap 2. Pada kasus-kasus berat, ratusan episode hipopnea/apnea dapat terjadi setiap jam sehingga menyebabkan gangguan yang parah pada tidur dalam. Rasa kantuk yang berebihan di siang hari merupakan keluhan utama penderita OSA. The National Commission on Sleep Disorders Research (1993) memperkirakan bahwa 18 juta orang diamerika serikat memenuhi criteria diagnostic untuk OSA.
Apnea obstruktif menyebabkan penurunan kadar oksigen arteri yang serius. Klien berisiko mengalami disritmia jantung, gagal jantung kanan, hipertensi pulmonal, serangan angina, stroke, dan hipertensi. Pria usia pertengahan biasanya dianggap lebih sering terkena, terutama jika mereka obesitas. Namun, penemuan terbaru menunjukkan bahwa wanita pascamenopause juga relatif sering mengalami apnea tidur obstruktif yang berkaitan erat dengan hipertensi (Gislason et al, 1993). Waktu tersering terjadinya kematian yang tampak terjadi secara alami atau malah tidak dapat dijelaskan adalah antara pukul 4 dn 6. Beberapa peneliti meyakini bahwa apnea tidur merupakan penyebab dari berbagai kematian ini(Berman et al, 1990.
Apnea tidur sentral (central sleep apnea, CSA) melibatkan disfungsi pada pusat pengendalian pernapasan di otak. Impuls untuk bernapas sementara terhenti, dan aliran udara pada hidung dan gerakan dnding dada juga terhenti. Saturasi oksigen dalam darah menurun. Kondisi ini terjadi pada klien yang mengalami cedera batang otak, distrofi otot, dan ensefalitis dan juga pada orang yang bernapas normal di siang hari. Kurang dari 10% apnea tidur berasal dari sentral. Individu dengan CSA cenderung terbangun diwaktu tidur dan oleh karena itu, ia mengeluh insomnia dan EDS. Klien juga mengalami dengkuran yang ringan da intermiten.
Klien yang mengalami apnea tidur sering kali tidak memiliki tidur dalam yang siginifikan. Selain itu bnyak juga terjadi keluhan mengantuk yang berlebihan di siang hari, serangan tidur, keletihan, sakit kepala dipagi hari, dan menurunnya gairah seksual. Pengobatannya mencakup terapi untuk komplikasi jantung dan pernapasan yang utama dan terapi untuk masalah emosional yang muncul akibat gejala dari gangguan ini. Higine tidur dan program penuruna berat badan juga dapat membantu. Salah satu terapi yang paling efektif adalah penggunaan alat penekan jalan napas positif yang kontinu di dalam hidung (continuous positive airway pressure, CPAP) dim lam hari. Klien yang menggunakan CPAP harus memakai masker pada hidungnya. Udara ruangan dialirkan melalui masker pada tekanan yang tinggi. Tekanan udara mencegah kolapsnya jalan napas. Alat CPAP bersifat portabel dan efektif terutama untuk apnea obstruktif pada kasus-kasus apnea tidur yang parah, tonsil, uvula, atau bagian dari palatum mole dapat diangkat melalui pembedahan. Keberhasilan prosedur bedah sangat bervariasi.
- 4. Narkolepsi
Masalah signifikan untuk individu yang menderita narkolepsi adalah bahwa orang tersebut jatuh tertidur tanpa bisa dikendalikan pada waktu yang tidak tepat. Serangan tidur dapat dengan mudah disalahartikan dengan kemalasan, kurangnya minat terhadap aktivitas, atau mabuk kecuali jika gangguan ini dipahami. Umumnya gejala pertama mulai muncul pada remaja dan dapat dislahartikan dengan EDS yang juga bnyak terjadi pada remaja. Penderita narkolepsi diobati dengan stimulant yang hanya dapat menigkatkan sebagian sebagian kesiagaan dan mengurangi serangan tidur, serta obat yang menekan katapleksi dan gejala lain yang terkait dengan REM. Tidur siang singkat tidak lebih 20 menit dpat membantu perasaan mengantuk yang subjektif. Factor-faktor yang eningkatkan rasa kantuk pada klien narkolepsi (mis. Alcohol atau aktivitas yang melelahkan) harus dihindari.
- 5. Deprivasi Tidur
Hospitalisasi, terutama di unit perawatan intensif, membuat klien rentan terhadap gangguan tidur ekstrinsik dan sirkadian (Wood, 1992). Deprivasi tidur melibatkan penurunan kuantitas dan kualitas tidur serta ketidakkonsistenan waktu tidur. Apabila tidur mengalami gangguan atau terputus-putus, dapat terjadi perubahan urutan siklus tidur normal. Terjadi deprivasi tidur kumulatif.
Respons seseorang terhadap deprivasi tidur sangat bervariasi. Klien dapat mengalami berbagai gejala fisiologis dan psikologis. Keparahan gejala sering berhubungan dengan durasi deprivasi tidur. Terapi yang paling efektif untuk deprivasi tidur adalah menghilangkan atau memperbaiki factor-faktor yang mengganggu pola tidur. Perawat dapat memainkan peranan yang penting dalam mengidentifikasi masalah-masalah deprivasi tidur yang dapat diobati.
- 6. Parasomnia
Parasomnia yang terjadi pada anak-anak akan meliputi somnambulisme (berjalan dalam tidur), terjaga malam, mimpi buruk, enuresis nocturnal (ngompol), dan menggeretakkan gigi (bruksisme) (mindell,1993). Apabila orang dewasa mengalami hal ini maka hal tersebut dapat mengindikasikangangguan yang lebih serius. Terapi khusus untuk gangguan ini bervariasi. Namun, dalam semua kasus yang terpenting adalah mendukung klien dan mempertahankan keamanannya. Misalnya, orang yang berjalan dalam tidur tidak menyadari lingkungan di sekitarnya dan lambat bereaksi. Oleh karena itu risiko jatuh sangatlah besar. Perawat tidak boleh mengejutkan klien yang sedang berjalan tidur tetapi membangunkan dengan lembut dan membimbingnya dengan lembut dan membimbingnya kembali ke tempat tidur
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Topik SGD
Ny Widya (32 th), mengeluh seringkali terbangun di tengah malam dan sulit untuk bisa tidur kembali hingga pagi dan akhirnya harus berangkat kerja. Kejadian ini sudah berlangsung selama 6bulan. Ny.Widya sudah mencoba pengobatan herbal untuk mengatasi masalah tidur yang dialaminya tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda berhasil. Dalam 24 jam, Ny. Widya hanya bisa tidur 3 sd. 4 jam dan itu seringkali membuatnya mudah lelah, sakit flu dan mengurangi produktivitas kerjanya.
3.2 Tinjauan Teori
Istirahat dan tidur sangat penting bagi kesehatan. Istirahat dapat memulihkan energi seseorang dan memungkinkan orang tersebut dapat menjalankan fungsi dengan optimal. Apabila waktu istirahat seseorang berkurang, orang tersebut seringkali mudah marah, depresi, dan lelah serta memiliki kontrol emosi yang buruk. Kurangnya kualitas tidur seseorang diakibatkan karena adanya gangguan tidur. Gangguan tidur ada dua, yaitu gangguan tidur primer dan gangguan tidur sekunder. Salah satu gangguan tidur primer adalah insomnia. Insomnia merupakan gangguan tidur yang paling sering terjadi. Insomnia adalah ketidakmampuan untuk tidur dengan jumlah atau kualitas yang cukup. Individu yang menderita insomnia tidak merasa segar pada saat tidur. Terdapat 3 tipe insomnia:
- Insomnia awal (sulit tertidur)
- Insomnia intermiten berkala atau insomnia pemeliharaan (sulit untuk tetap tertidur karena sering terbangun dalam waktu lama)
- Insomnia terminal (terbangun pada dini hari atau terbangun sebelum waktunya)
Insomnia dapat terjadi akibat ketidaknyamanan fisik tetapi lebih sering terjadi akibat stimulasi mental yang berlebihan karena ansietas. Individu yang terbiasa menggunakan obat-obatan atau yang meminum alkohol dalam jumlah besar cenderung menderita insomnia.
Penanganan insomnia seringkali mengharuskan klien untuk membentuk pola perilaku baru yang menginduksi tidur. Kegunaan obat tidur masih diragukan. Obat-obatan tersebut tidak mengatasi penyebab masalah dan penggunaan yang berkepanjangan dapat menciptakan ketergantungan obat.
Diagnosa Keperawatan
Ny. Widya (32 th), mengeluh seringkali terbangun ditengah malam dan sulit untuk bisa tidur kembali hingga pagi dan akhirnya harus berangkat kerja. Kejadian ini sudah berlangsung selama 6 bulan. Ny. Widya sudah mencoba pengobatan herbal untuk mengatasi masalah tidur yang dialaminya tetapi tidak menunjukkan tanda – tanda berhasil. Dalam 24 jam Ny. Widya hanya bisa tidur selama 3 sd. 4 jam dan itu seringkali membuatnya mudah lelah, sakit flu dan mengurangi produktivitas kerjanya.
P (Problem):
Ny.Widya (32th) seringkali terbangun ditengah malam dan sulit untuk bisa tidur kembali hingga pagi. Dalam 24 jam, ny.widya hanya bisa tidur 3 s.d 4 jam. Dari data subjektif tersebut dapat disimpulkan bahwa ny. Widya mengalami gangguan tidur insomnia terminal.
E (Etiologi):
Ny. Widya tiap hari berangkat kerja sejak pagi. Selama bekerja, kemungkinan ny. Widya merasa kelelahan dan ada suatu tekanan yang mengganggu pikirannya sehingga ia mengalami kesulitan tidur. Untuk mengatasi gangguan tidurnya ny.widya mencoba pengobatan herbal. Namun tetap tidak menunjukkan tanda-tanda berhasil. Dari hasil pengkajian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penyebab gangguan tidur yang dialami ny. Widya adalah karena stress terhadap lingkungan pekerjaan dan obat herbal yang di konsumsi tanpa pengawasan dokter setelah mengalami gangguan tidur.
S (Symtom):
Akibat kurangnya pemenuhan istirahat dan tidur yang dialami ny.Widya, ny. Widya mengalami penurunan imunitas sehingga ia sering merasa lelah, sakit flu, dan produktivitas kerjanya menurun.
3.3 Asuhan Keperawatan
FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Tanggal MRS : 1 April 2014 Jam Masuk : 18.30 WIB
Tanggal Pengkajian : 1 April 2014 No.RM :7
Jam Pengkajian : 19.00 WIB Diagnosa Masuk: Insomnia Terminal
Hari rawat ke : 1
IDENTITAS
- Nama Pasien : Ny. W
- Umur : 32 tahun
- Suku/Bangsa : Jawa / Indonesia
- Agama : Islam
- Pendidikan : Sarjana
- Pekerjaan : Karyawan
- Alamat : Mulyorejo, Surabaya
- Sumber Biaya : Sendiri
Terbangun ditengah malam dan sulit untuk bisa tidur kembali hingga pagi dan akhirnya harus berangkat kerja. Dalam 24 jam hanya bisa tidur 3 s.d 4 jam dan itu seringkali membuatnya mudah lelah, sakit flu dan mengurangi produktivitas kerjanya.
A. Riwayat tidur
- Pola tidur : Ny. Widya tidur 3 sampai 4 jam sehari.
- Sudah 6 bulan Ny. Widya selalu terbangun ditengah malam dan sulit untuk tidur kembali hingga pagi hari. Ny. Widya sudah mencoba pengobatan herbal namun tidak menunjukkan tanda – tanda berhasil mengatasi masalah tidur yang dihadapi.
- Klien merupakan seorang wanita karir. kemungkinan akibat jam kerja yang berlebihan membuat waktu tidur ny. widya berkurang.
- Ny. Widya seringkali menjadi mudah lelah, sakit flu dan produktivitas bekerja menjadi berkurang akibat gangguan tidur yang dialami.
B. Gejala Klinis
Gejala klinis yang mungkin muncul: perasaan lelah dan sakit flu sehingga produktivitas bekerja menjadi berkurang.
C. Penyimpangan Tidur
Dari tanda – tanda yang ditunjukkan klien kemungkinan klien mengalami insomnia terminal yaitu terbangun sebelum waktunya.
ANALISA DATA
| Data | Etiologi | Masalah Keperawatan |
| DS : klien mengeluh seringkali terbangun di tengah malam dan sulit untuk tidur kembali DO :
|
Faktor psikologis | Gangguan pola tidur berhubungan dengan faktor psikologis (mis : ansietas, stress dan faktor lingkungan) |
DS :
|
Insomnia terminal berhubungan dengan pola aktivitas yang berlebihan. | |
DS :
|
Gangguan sistem imun bd. kurangnya kebutuhan istirahat dan tidur |
RENCANA KEPERAWATAN
| Diagnosis (tujuan, kriteria hasil) |
Intervensi | Rasional |
| Gangguan pola tidur berhubungan dengan faktor psikologis (mis : ansietas, stress dan faktor lingkungan) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, klien menunjukkan rasa percaya diri dan menampakkan ekspresi wajah yang ceria sehingga dapat tidur dengan nyaman dan pola tidur kembali meningkat. Kriteria hasil :
|
|
|
| Insomnia terminal yang ditandai dengan sering terbangun sebelum waktunya dan tidak dapat tidur kembali hingga pagi hari. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam, klien dapat mempertahankan pola tidur dalam batas rentang ±6 jam Kriteria Hasil:
|
|
|
| Akibat dari kesulitan tidur klien menderita beberapa penyakit yaitu
wajah yang lesu dan kelelahan, sakit flu, dan produktivitas kerja
berkurang. Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam, klien tampak lebih segar, tidak sakit flu, dan melakukan aktivitas dengan perasaan senang. Kriteria Hasil: klien tampak segar dan tidak sakit flu. |
1. beri pijat punggung pada klien sebelum tidur. 2. beri obat antibiotik untuk menyembuhkan flu pada klien. 3. instruksikan pada klien bahwa jam kerja yang berlebihan menyebabkan gangguan pada pola tidur. |
|
EVALUASI
1. Pola tidur klien berada pada rentang normal yaitu sedikitnya 5 jam sehari (untuk dewasa) .
2. Klien tidur dengan nyenyak dan tidak terbangun pada malam hari.
3. Pada saat bangun klien merasa segar kembali
4. Klien menghentikan obat – obatan herbal yang diminum jika tidak sesuai dengan resep dokter.
5. Klien tidak lagi mengalami flu dan dapat bekerja dengan produktif.
DAFTAR PUSTAKA
Alimul, Aziz. 2008. Ketrampilan Dasar Praktik Klinik Kebidanan Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika
Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Klien. Jakarta: Salemba Medika
Judith
Korzier, Erb, Berman, Snyder. 2010. Buku Ajar Fundamental Keperawatan:Konsep, Proses, & Praktik, Edisi 7, Volume 1. Jakarta: EGC
Kozier, Erb, Berman, Snyder. 2011. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses, dan Praktik. Edisi 7. Volume 2. Jakarta: EGC
Patricia A,potter.2006. fundamental keperawatan. Jakarta: EGC

MAKALAH KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
ReplyDeleteMakalah Model Konsep Keperawatan
ReplyDeleteCara Mengerjakan Soal KPSP anak 1
Cara Mengerjakan Soal KPSP anak 2
Cara Mengerjakan Soal KPSP anak 4
Cara Mengerjakan Soal KPSP anak 5